Vietnam – Ho Chi Minh City

Indahnya Ho Chi Minh

Akhirnya, sampai juga kami di kota pemberhentian terakhir di Vietnam. Sebenarnya tidak terakhir juga, kami sempat menginap semalam di HCH ketika baru sampai dari Jakarta, namun kami memilih memulai petualangan kami dari kota Hoi An, Nha Trang dan kemudian HCH. Saya rasa ini akan menjadi tulisan terpanjang dari semua tulisan saya di petualangan Vietnam kali ini J.

Kami berangkat pagi hari dengan bis dari kota Nha Trang menuju HCH dengan melewati kota Mui Ne, salah satu kota pantai terkenal lainnya selain Nha Trang. Saya memilih perjalanan kurang lebih 11 jam di pagi hari ini karena referensi dari beberapa blog, yang mengatakan jangan melewatkan pemandangan antar kota yang katanya indah. Perjalanan ini membuat kami harus mengorbankan satu hari untuk berjalan-jalan, namun perjalanan ini tidaklah sia-sia. Perjalanan dari Nha Trang ke Mui Ne saya akuin menyajikan pemandangan yang cukup unik dan indah dengan pemandangan silih berganti antara bukit-bukit, hamparan rumput dan pesisir pantai berpasir putih. Yang membuat unik tentunya perbukitannya, biasanya bukit itu hanya di tumbuhi pepohonan, nah kalau di Vietnam, pepohonan tersebut harus beradu tumbuh dengan bebatuan keabuan yang ukurannya besar-besar. Saking besarnya, kadang satu bukit, hampir semuanya diisi oleh bebatuan dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk pepohonan. Dari jauh, tampaknya pepohonan tersebut merupakan pepohonan rendah. Sempat terpikir, bagaimana pada mulanya batu-batu tersebut berada di atas bukit? Batu tersebut benar-benar seperti tumbuh di atas bukit.

Batu-batu besar di bukit

Batu-batu besar di bukit

Pemandangan pesisir pantai ketika mulai memasuki kota Mui Ne

Pemandangan pesisir pantai ketika mulai memasuki kota Mui Ne

Mulai memasuki Mui Ne, dimulai lah pemandangan pesisir pantai dengan angin yang cukup besar dan udara yang kering. Nha Trang ke Mui Ne ditempuh dengan waktu 4 jam saja dan di siang hari itu, kami diberikan waktu untuk makan siang selama 30 menit Tidak seperti Nha Trang yang pantainya dapat dinikmati bersama dan  tidak ada hotel yang berdiri di tepi pantai, sepanjang pesisir pantai Mui Ne dipenuhi oleh resort/hotel berbintang nan mahal. Sehingga untuk masuk ke pantai, ya harus menginap di salah satu resort/hotel tersebut. Jadi bertanya-tanya, kalau misalnya yang menginap di hostel, dimanakah kami bisa menikmati pantai ini yang kalau melihat foto-foto di internet, lebih indah dibanding Nha Trang😀

Setelah Mui Ne pemandangan berubah menjadi pemandangan pemukiman yang tampaknya tidak berhenti selama perjalanan dari Mui Ne ke HCH.  Akhirnya perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 8 jam, harus kami tempuh selama kurang lebih 11 jam, karena kemacetan sore hari ketika ingin masuk ke kota HCH.

Kami mempunyai dua hari untuk menjelajahi kota ini, maka saya memutuskan hari pertama kami akan ke Chu Chi Tunnel kemudian berbelanja ke Ben Than Market, di hari kedua kami akan berkeliling kota HCH.

Chu Chi Tunnel

Kami memutuskan untuk kembali mengikuti tour untuk pergi ke Chu Chi dengan membayar USD 5 (belum termasuk tiket masuk Chu Chi seharga kurang lebih VND 65,000) untuk tour ½ hari dan berangkat jam 8 pagi. Kami menginap di jalan Pham Ngu Lao, yaitu jalan yang terkenal dengan tempat menginap backpakers di HCH. Kami berangkat dengan menggunakan tour SinhTourist di jalan Bui Vien yang tidak jauh dari Pham Ngu Lao. Dengan peserta tour kurang lebih 30 orang (banyak yahh?) dan seorang pemandu tour, berangkatlah kami ke Chu Chi  dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Sesampainya disana, tempat tersebut sudah penuh sekali dengan turis dan pemandu tournya masing-masing (termasuk kami tentunya).

Chu Chi Tunnel sendiri terkenal karena itu merupakan terowongan bawah tanah yang digunakan oleh tentara Vietnam ketika mereka bertempur dengan USA. Tidak hanya sekedar terowongan, namun tentara Vietnam bisa hidup di bawah tanah selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Bentuk terowongan seperti ini ada dua tempat di Vietnam, salah satunya di Chu Chi Tunnel dan satu lagi saya lupa😀, namun kegunaan Chu Chi Tunnel ini terutama untuk memudahkan para tentara bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Tempat ini sendiri berada di sekitar hutan yang dipenuhi pohon karet. Tour pertama di awali dengan penjelasan pemimpin tour mengenai sejarah dan kegunaan terowongan, bayangkan saja terowongan ini sampai tiga tingkat kebawah dengan ruang yang mempunyai fungsi berbeda-beda dan dirancang dengan kecerdikan mereka saat itu untuk mengelabui tentara Amerika. Untuk membangun terowongan itu mereka hanya mengandalkan sekop kecil saja. Selanjutnya, kami diajak melihat jenis jebakan-jebakan yang dibuat dengan alat sederhana, tank Amerika yang berhasil direbut, lubang menganga yang super besar hasil bom B52 Amerika, berbagai macam ukuran bom Amerika serta peragaan cara para tentara membuat bom rakitan sendiri. Tidak lupa juga, ada arena mencoba menembak dengan membeli peluru bohongan. Kalau tidak salah satu peluru seharga VND 20,000. Ehm, agak mahal dan sepertinya tidak mungkin hanya menembak dengan satu peluru.

Petugas memperagakan cara masuk ke terowongan

Petugas memperagakan cara masuk ke terowongan

Sasa di depan tank hasil jarahan dari pasukan USA

Sasa di depan tank hasil jarahan dari pasukan USA

Berbagai macam ukuran bom pasukan USA

Berbagai macam ukuran bom pasukan USA

Kawah yang disebabkan bom B52 (foto oleh Sasa)

Kawah yang disebabkan bom B52 (foto oleh Sasa)

Sasa merangkak di terowongan Chu Chi

Sasa merangkak di terowongan Chu Chi

Akhirnya, perjalanan yang paling ditunggu adalah masuk ke dalam terowongannya itu sendiri. Kalau kata pemandu tour, terowongan yang akan kami lalui sepanjang 50 meter ini adalah terowangan asli yang tentu saja dalamnya sudah di semen. Saking semangatnya, kami termasuk rombongan terdepan yang masuk dan ternyata untuk menyusuri terowongan tersebut diperlukan otot betis dan paha yang kuat😀

Terowongan sempit itu hanya dapat dilalui dengan berjalan jongkok atau menggunakan dengkul dan telapak tangan untuk berjalan. Panasnya luar biasaaaaa…dan kami menuruni sekitar 2 tingkat ke bawah, karena semakin lama semakin turun. Di dalam terowongan sendiri, terkadang terang karena ada lampu dan terkadang gelap gulita. Dan setelah 50 meter, kami pun sampai…pfff lega..50 meter itu sebenarnya terasa sangat sebentar namun keringat terus keluar karena udara lembab dan panas di dalam terowongan. Susah juga membayangkan gimana tentara Vietnam bisa hidup di dalam terowongan.  Di akhir tour kami disuguhkan dengan teh hangat gratis dan akhirnya kembali ke kota HCH.

Ben Thanh Market

Paling senang kalau ke pasar, it’s shopping time!!! Pasar ini merupakan pasar paling terkenal di HCH yang dapat ditempuh sekitar 10-15 menit berjalan kaki dari Pham Ngu Lao. Ben Thanh ini berada dalam satu gedung yang cukup bersih dengan kios-kios yang teratur, tidak seperti Cathucak market di Bangkok yang semerawut. Pasar disini menjual banyak barang-barang yang cukup variatif mulai dari tas, kaos, topi, souvenir, dll. Yang paling terkenal adalah tiruan dari tas bermerek North Face, Deuter dan Kipling. Walaupun palsu, terlihat cukup meyakinkan kalau dilihat dari jauh dengan kualitas yang menurut saya juga cukup baik dan harga yang cukup murah. Untuk tas ransel kecil atau daypack Northface hanya seharga VND 70,000 atau Rp 35rb..murah khan?? *sampai sekarang saya menyesal kenapa tidak beli😀 Untuk merek Kipling, sepertinya mereka hanya menjual jenis koper namun tidak dengan ranselnya.

Tips belanja disini:

  1. Belanja lah di siang atau sore hari, katanya kalau sudah malam tempat ini tutup dan pasar pindah ke luar gedung. Tampaknya lebih seru kalau siang hari dey
  2. Cobalah menawar dengan 1/3 harga yang ditawarkan serta hati-hati, menurut seorang teman, pedagang disana bisa dan mengerti bahasa Indonesia!! Ngeri khan?? Jadi tidak bisa bisik-bisik sama temen soal harga tawaran hehe. Ntah mengapa, saya tidak menemukan satu pedagang yang berbicara bahasa Indonesia dengan saya😀 jadilah acara tawar menawar saya cukup sukses disana. Tapi saya percayalah dengan kemampuan orang Indonesia pada umumnya dalam hal tawarmenawar😀
  3. Cobalah menjelajahi lorong-lorong kecil di pasar ini, karena mereka kadang lebih mudah ditawar serta barangnya sama saja dengan yang terdapat di lorong yang lebih besar. Segeralah menawar dan tidak ragu menawar bila sudah menemukan suatu barang, karena untuk kembali menemukan penjual dengan segitu banyaknya lorong, sungguh membuat kepala penat!
Gedung Ben Thanh

Gedung Ben Thanh

Water Puppet Show

Perhentian yang sebenarnya tidak direncanakan karena merupakan saran seorang teman untuk tidak lupa mampir di tempat ini. Setelah mencari tahu lewat buku primbon si Lonely Planet, akhirnya menemukan pertunjukan puppet show di Golden Dragon Water Puppet Theatre di jalan 55B Nguyen Thin Minh Khai. Dengan sedikit terburu-buru dari Ben Thanh Market ke tempat ini karena kami mengejar pertunjukan jam 6.30 malam (selain itu jam 5 malam). Dari peta terlihat dekat, namun lumayan jauh juga, kami harus berjalan 30 menit dengan mengandalkan bantuan bahasa tarzan bertanya dengan petugas satpam atau tukang parkir kearah mana jalan ini, karena entah mengapa peta Lonely Planet kali ini agak kurang akurat😀

Ketika kami berjalan menyusuri daerah ini yang tampaknya cukup padat dengan toko-toko dan restaurant, tidak terlalu berbeda dengan Jakarta yang dipenuhi motor yang sangat banyak. Karena waktu menunjukan jam 6 dan tampaknya merupakan jam pulang kantor, sehingga kendaraan sangat padat di antrian lampu merah dan sama seperti di Jakarta, motor-motor tersebut pun naik juga ke trotoar, berebut untuk mengantri di lampu merah. Yang menyenangkan di kota ini adalah, TROTOAR nya!! lebar sekali, sampai dua mobil parkir parallel juga bisa kok. Untuk pembanding, trotoar di jalan ini lebih lebar disbanding trotoar di jalan Sudirman!! Walaupun kadang ditemukan juga, trotoar dipakai untuk  lahan parkir motor, sekali lagi sama dengan Jakarta, namun tidak mengurangi kenyaman para pejalan kaki.

Water Puppet Show

Water Puppet Show

Dengan uang masuk sebesar VND 100,000 akhirnya kami dapat menyaksikan pertunjukan dengan menggunakan bahasa Vietnam yang kami tidak mengerti😀 pertunjukan selama kurang lebih selama 1 jam ini dipenuhi oleh turis dari China yang mengikuti tour dan mendapatkan tempat duduk di tengah ruangan, sementara kami hanya manyun mendapatkan di paling atas. Tips, sebelum membeli tiket, sepertinya bisa kalau kita meminta untuk tidak ditempatkan di tempat duduk paling atas.

Pertunjukan ini merupakan pertunjukan cerita boneka yang menari-nari (jangan tanya cerita apa, karena mereka menggunakan bahasa Vietnam) yang dimainkan di atas sebuah kolam berwarna kecoklatan dengan kiri kanannya terdapat suara dubber serta pemusik yang mengiringi pertunjukan. Kalau kata MC nya, pertunjukan ini merupakan pertunjukan khas Vietnam yang sudah terkenal di mancanegara. Walaupun terkendala bahasa, pertunjukan ini berusaha untuk menyajikan humor-humor slapstick yang dimainkan para boneka, jadi terkadang kami tergelak tawa juga melihat kelakuan si boneka😀

Sepertinya banyak hotel di sekitar HCH yang menawarkan tiket untuk masuk ke tempat ini, namun saya kurang mengerti harga yang ditawarkan, yang pasti kita bisa langsung membeli di tempat langsung.

Keliling kota Ho Chi Minh

Hari itu adalah hari dimana kami memutuskan untuk mengikuti Lonely Planet Vietnam sebagai referensi walking tour kami untuk menikmati tempat-tempat yang patut dikunjungi. Tadinya berpikir untuk menyewa motor, tapi kok mahal yah? VND 120,000 sehingga kami mengurungkan niat dan berpikir tampaknya akan lebih menyenangkan kok berjalan kaki di udara yang agak mendung. Dan kami memang tidak menyesal untuk tidak menyewa motor!

Setelah mampir sebentar di Ben Thanh Market (biasa dey..ada barang yang belum terbeli😀 ) akhirnya kami memulai dengan menyusuri jalan Le Loi yang teduh sekali dengan pepohonan dan trotoar yang lebarrrr (betul-betul berharap Jakarta bisa seperti jalan itu), kami masuk ke dalam suatu mall, menikmati kopi terlebih dahulu untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Karena keterbatasan waktu, tadinya sempat berpikir untuk langsung ke gedung Cathedral dan Main Post Office yang terkenal. Dengan mengacuhkan sedikit rute di Lonely Planet dan berusaha mencari jalan sendiri (dan terimakasih atas tata ruang kota yang cukup rapi) dengan mengandalkan peta, eh malah kami tanpa sengaja menemukan gedung yang sebenarnya bagian dari walking tour nya Lonely Planet. Gedung yang pertama kami temui adalah:

Rex Hotel dengan bentuk gedungnya yang modern beradu dengan gedung di depannya yang lebih tua yaitu People’s Committee Building yang dibangun antara tahun 1901 dan 1908 dan dulu menjadi Hotel de Ville di jalan Le Thanh Thon. Di depan gedung tersebut ada taman dengan patung Uncle Ho.

Uncle Ho dengan latarbelakang People's Committe Building

Uncle Ho dengan latarbelakang People's Committe Building

Tidak jauh dari gedung tersebut kami sekali lagi menemukan taman di tengah kota yang kecil namun terawat dan di depan taman tersebut tampaklah Opera House yang berbentuk klasik ala Eropa namun saya kurang tahu apakah dari dulu bentuknya seperti ini atau merupakan gedung baru.

Opera House

Opera House

Penarik becak di sekitar Opera House

Penarik becak di sekitar Opera House

Jalan Don Khoi, tidak jauh dari Opera House terdapat jalan Don Khoi yang tidak terlalu lebar/bukan jalan utama namun di teduhi oleh tingginya gedung hotel dan pepohonan. Jalan ini terkenal dengan hotel-hotel mewah, restaurant dan mall (salah satunya Parkson yang sempat kami kunjungi).

Jalan Dong Khoi

Jalan Dong Khoi, disamping kiri kanannya hotel dan restauran

Dengan menyusuri jalan Don Khoi, akhirnya sampai juga di Notre Dame Cathedral yang dibangun antara 1877 dan 1883. Bangunan yang mirip dengan Cathedral di Jakarta ini di sore hari itu sangat penuh di sesaki oleh turis dengan bis-bis mereka terparkir di sekitarnya dan Main Post Office di sebelah kanannya. Gereja ini tersebut masih dipakai untuk beribadah seperti yang tampak di sore hari itu.

Notre Dame Cathedral

Notre Dame Cathedral

Main Post Office merupakan salah satu gedung yang wajib dikunjungi juga. Merupakan gedung tua yang dibangun tahun 1886 sampai dengan 1891 oleh Gustav Effiel, yang membangun Menara Effiel, sampai saat ini masih dipakai untuk kantor pos, telepon internasional maupun penjualan souvenir.

Main Post Office

Main Post Office

Di dalam Main Post Office

Di dalam Main Post Office

Sore itu terpaksa harus kami akhir perjalanan sampai dengan disini, karena tampaknya udara sore tidak bersahabat dengan kami, hujan besar mengiringi kami kembali ke hostel dan bandara untuk kembali menuju Jakarta. Sampai jumpa Vietnam, suatu hari nanti kami akan kembali😀

Where to stay?

Di HCH dibedakan oleh namanya distrik dan distrik yang paling memungkinan untuk berjalan kaki serta tidak terlalu jauh dari tempat-tempat wisata adalah distrik 1. Jalan Pham Ngu Lao di distrik 1 merupakan tempat terkenal untuk para budget traveler. Tidak jauh dari situ terdapat jalan Bui Vien yang penuh dengan travel serta restoran yang cukup terjangkau. Di daerah ini pun lumayan dekat dengan objek wisata, sehingga memungkinkan untuk memutarinya dengan berjalan kaki. Namun jangan kaget apabila hostel yang dipesan harus masuk gang di jalan Pham Ngu Lao atau hostelnya tidak terletak di pinggir jalan. Banyak hostel yang seperti itu, seperti hostel yang kami tempati dan jangan kuatir walaupun masuk gang, hostel tersebut bersih dengan fasilitas kamar mandi dalam serta air hangat.

P.S : maafkan untuk kali ini saya tidak mengindahkan keseragaman besar kecilnya ukuran foto  di posting kali ini :)

Baca juga edisi petualangan Vietnam saya di:

Hoi An atau Nha Trang dan tips Things you should know before you visit Vietnam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: